Antologi Puisi: Puisi Kemerdekaan ke-81 Alumni SMAN 8 Jakarta
Mengulik Rasa, Membuncah Kata
Rp200000.00
"Merdeka!" Satu kata yang mengguncang langit Nusantara delapan puluh satu tahun silam. Satu kata yang diucapkan dengan dada bergetar, tangan mengepal, dan air mata yang tak lagi ditahan. Satu kata yang lahir dari tumpahan darah, peluh, dan doa-doa panjang yang tak pernah putus di sepanjang sejarah. Namun, pertanyaan yang mengusik hingga kini, yang bergema di setiap sudut ruang dan lorong-lorong kehidupan anak bangsa adalah: apakah kita sudah benar-benar merdeka? Buku ini lahir bukan dari kemegahan istana, bukan dari ruang-ruang rapat yang berhawa dingin, dan bukan pula dari mimbar-mimbar dusta yang menjanjikan segalanya. Buku ini lahir dari kegelisahan, dari getaran jiwa-jiwa yang masih peduli, dari hati-hati yang menolak untuk diam. Antologi "81 Puisi Kemerdekaan Alumni SMANDEL Jakarta" adalah kumpulan suara. Bukan suara tunggal yang menggurui, melainkan suara-suara parau yang bersahutan dari berbagai sudut: dari mereka yang masih merasakan pahitnya ketidakadilan, dari mereka yang menyaksikan sendiri bagaimana korupsi merenggut masa depan, dari mereka yang percaya bahwa kemerdekaan bukan sekadar bendera yang dikibarkan setiap bulan Agustus. Para penulis dalam buku ini—alumni SMANDEL Jakarta dari berbagai angkatan—telah memilih kata-kata sebagai senjata. Mereka sadar, bahwa di era di mana kebodohan dipelihara dan kejujuran menjadi barang langka, puisi masih mampu menembus dinding-dinding kesadaran yang mulai membatu. Di buku puisi ini kita akan menemukan:
- Kemarahan yang jujur, seperti yang tertuang dalam puisi puisi yang mengkritik penguasa yang lupa diri, para pemburu kekayaan yang merampok negeri sendiri.
- Harapan yang tak mudah padam, walau sering terbentur realita yang pahit.
- Kenangan sejarah, yang mengingatkan bahwa di balik merah putih yang berkibar, ada darah pahlawan yang tak pernah sempat menikmati buah perjuangannya.
- Kerinduan, akan Indonesia yang adil, makmur, dan berdaulat. Indonesia yang selama ini hanya menjadi janji di atas kertas.
Puisi-puisi ini bukanlah puisi yang manis dan menenangkan. Bukan pula puisi yang dibuat untuk menyenangkan telinga penguasa. Ini adalah puisi yang lahir dari luka, dari sesak, dari tanya-tanya yang tak kunjung terjawab. Ini adalah puisi yang tak gentar menyebut "bajingan" bagi mereka yang mengkhianati amanat, dan tetap memanggil "Patriot" bagi mereka yang berjuang dengan tulus. Para alumni SMANDEL yang berkumpul dalam antologi ini mewakili generasi yang tidak lagi mau diam. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang selama ini hanya menjadi penonton dalam panggung besar bernama Indonesia. Namun kini, mereka naik ke panggung. Bukan dengan bambu runcing, bukan dengan senjata, melainkan melalui kata-kata yang diracik dengan mengulik rasa, denyut nadi dan pengalaman hidup. Di usia delapan puluh satu tahun, Indonesia memang telah tumbuh menjadi bangsa yang lebih tua. Namun usia bukan jaminan kebijaksanaan. Masih ada luka yang menganga, masih ada janji yang dikhianati, masih ada rakyat yang merintih di bawah kemegahan pembangunan yang seringkali hanya fatamorgana. Buku ini adalah bentuk lain dari perjuangan. Perjuangan untuk terus mengingatkan, untuk tidak membiarkan sejarah berulang dengan 6 cara yang sama, untuk memastikan bahwa generasi mendatang tidak hanya mewarisi kemerdekaan dalam bentuk seremonial, melainkan kemerdekaan yang hidup, yang terasa di meja makan, di ruang kelas, di sawah, di laut, dan di setiap sudut kehidupan rakyat jelata. Akhirnya kami, para penyusun dan penulis, hanya ingin menyampaikan satu pesan: Jangan biarkan semangat kemerdekaan meredup. Jangan biarkan kepalsuan menggantikan kejujuran. Jangan biarkan ketakutan membungkam suara kebenaran. Karena kita, bangsa ini, pernah belajar dari sejarah bahwa satu suara yang berani dapat menggerakkan jutaan. Dan satu puisi yang tulus, dapat menyalakan kembali api yang hampir padam. Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-81. Merdeka! Merdeka! Merdeka!
